0inShare Alasan Remaja Tawuran di Bulan Ramadhan


JAKARTA –  Memasuki sepuluh akhir di bulan Ramadhan, intensitas tawuran remaja di Jakarta justru semakin marak. Hampir setiap hari kita disuguhi berbagai macam berita mengenai salah satu aktivitas penyimpangan remaja tersebut. Melalui media cetak maupun online, seperti Kompas, Antara, maupun Detik, kerap disorot mengenai sebab dan akibat dari tawuran.

Ironisnya meski beberapa remaja telah tertangkap aparat keamanan maupun diberikan penyuluhan, namun hampir semuanya tidak ada efek jera bagi mereka. Karena tawuran tetap saja terjadi, dari awal Ramadhan hingga pertengahan saat ini, Selasa (07/08).

Sebagai seorang yang pernah remaja dan hampir setiap hari menyaksikan berbagai penyimpangan seperti tawuran, tentu saya tidak aneh dengan hal seperti ini. Apalagi kediaman saya berada di salah satu kawasan padat penduduk di Jakarta, yang menjadikan saya dapat mengetahui lebih dalam. Mengenai tawuran atau penyimpangan remaja, saya sendiri telah banyak menuliskannya dalam beberapa tulisan terdahulu.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat menanyakan kepada sekelompok remaja tentang penyebab terjadinya tawuran. Kendati mereka itu sudah tidak pernah melakukan tawuran lagi dalam dua tahun terakhir akibat ada seorang kawannya yang sampai cacat karena terkena sabetan celurit, namun tragedi kelam tersebut hingga sekarang tidak bisa dihilangkan begitu saja.

Apalagi ulah sepele gara-gara saling ejek saat main bola tengah malam dan membangunkan sahur, sampai harus membuat mereka “berperang” di dua kelurahan berbeda yang hanya dipisahkan sebuah jalan kecil. Beruntung ada beberapa tokoh pemuda dan tetua kampung yang disegani di kedua kubu itu ikut mendinginkan susasana hingga tercipta kesepakatan damai.

“Biasa Bang, dulu tawuran itu pan gara-gara kita saling ngejek. Penyebabnya sih nggak tahu juga, seinget saya udah dari zaman kibenen kita udah perang di waktu malam sama subuh. Ntar kalo udah lebaran, biasa lagi Bang, kalo kita ketemu di jalan saling sapa dan ga ada dendam sama sekali,” ujar seorang remaja.

“Biar masih perang tapi kalo ngedukung The Jack, biasanya kita kompak, Bang. Terus juga kalo ada konser OI atawa Slankers, kita juga satu suara buat nyewa truk bareng,” kata seorang remaja lagi menambahkan. Dari beberapa remaja tersebut, saling mengiyakan penuturan kawannya itu saat saya menanyakan.

Mendengarkan ucapan mereka, bagi saya tentu tidak begitu aneh karena hal itu memang nyata dan dialami juga oleh beberapa kawan seangkatan di awal dekade 2000-an. Hanya saja, yang menjadi pertanyaan adalah, ucapan kedua remaja tersebut yang kompak mengatakan bahwa antara gengnya dengan geng musuh bisa kompak bila mendukung tim sepak bola Persija serta menyaksikan konser Iwan Fals dan Slank.

Dapat diartikan bahwa tawuran di waktu malam atau subuh di bulan Ramadhan, salah satu penyebabnya merupakan sebuah kebiasaan yang diwariskan oleh pendahulunya. Karena dendam yang mendarah daging, dari seniornya itu, akibatnya menurun pada generasi berikutnya yang akhirnya ikut-ikutan untuk tawuran.

“Buat ngeredamnya, ga cukup hanya antar pengurus (RT/ RW/ Kelurahan) yang saling berdialog, tapi juga mesti ngebawa kedua kelompok  yang bersangkutan untuk dipertemukan. Biar mereka saling tatap muka dan ga perlu dipaksa ngaku bersalah, sebab kalo udah disaksiin warga sama orang tua masing-masing, yang ada mereka itu kapok dengan sendirinya,” ungkap seorang pengurus yang daerahnya pernah diwarnai tawuran saat saya tanyakan.

Pria yang berusia 30-an tahun itu, mengatakan bahwa tawuran terjadi bisa karena lemahnya perangkat warga di suatu daerah. Ia juga mencontohkan bahwa dahulu, pengurus di daerahnya termasuk dirinya sendiri bersifat terlalu keras pada remaja yang melakukan tawuran dengan mengancam akan melaporkan pada pihak yang berwenang.

Namun bukannya jera, malah aksi tawuran semakin menjadi-jadi dengan puncaknya hampir membuat permusuhan antar kampung akibat pihak remaja merasa diintimidasi oleh orang yang lebih tua. “Intinya adalah kami lebih ngelakuin pendekatan secara akrab kepada mereka yang terlibat. Jadi remaja di wilayah kami ga merasa ada gap, antara mereka yang masih berusia belasan dengan pengurus masyarakat setempat,” imbuhnya lagi.

Kemudian, pria yang tampilannya mirip John Lennon dengan rambut gondrong ini kembali mengatakan, “Saat kami melarang mereka dengan keras sampe ngejagain ketat setiap malamnya, yang ada remaja tersebut malah bilang kalo Abang emangnya ga pernah badung waktu masih mudanya. Di kick balik seperti itu, jelas aja sebagian dari kami pada bingung ngejawabnya,” katanya melanjutkan. “Sebab diakui, waktu kami muda juga sempet badung seperti mereka, walau ga sampe tawuran atawa bacok-bacokan. Jadi kami juga merasa harus ngelakuin pendekatan lebih dalam, terutama kepada Orang tua atau pihak keluarga. Ibarat ular kalo di pegang kepalanya pasti diam, gitu juga dengan mereka yang pasti nurut kalo dinasehati sama Emak atau Bapak yang emang jelas disegenin,” pungkasnya.

Berdasarkan beberapa kenyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa untuk menangani kenakalan remaja seperti tawuran, maka pihak keluarga dan lingkungan setempatlah seperti pengurus RT/ RW yang dapat menyelesaikannya. Sebab, mereka lebih memahami lingkungannya sendiri ditambah pernah merasakan muda, sehingga dapat melakukan pendekatan lebih lanjut pada remaja yang bersangkutan.

Perihal ichaelbykerz24
I really love all about a Music because Music is my Life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: